Pendiri Teman Ahok, Singgih Widyastomo, membantah mereka menerima duit sebesar itu. Menurut Singgih, duit operasional Teman Ahok selama ini didapat murni dari penjualan kaus dan pernak-pernik (merchandise). "Kami sudah jual puluhan ribu kaus dengan total pemasukan sekitar tiga miliar," katanya. Sejak Juni 2015 hingga saat ini, puluhan ribu kaus telah dijual dan menghasilkan dana Rp 2,5 miliar.
Penjualan kaus, kata Singgih, sangat banyak dan cukup membiayai operasional organisasi. Pesanan datang dari berbagai kota bahkan Singapura. "Ada juga sumbangan kertas. Kami memang butuh banyak kertas untuk mencetak formulir KTP," kata Singgih saat dihubungi, Rabu, 15 Juni 2016.
Uang hasil penjualan itu digunakan untuk membayar biaya listrik, air, alat tulis kantor, dan pengantaran formulir ke posko-posko melalui jasa pengiriman. Teman Ahok juga mengalokasikan honor Rp 50 ribu sehari bagi relawan yang bekerja mengisi data KTP di markas mereka. Setiap hari, lebih-kurang 20 relawan bekerja di markas Teman Ahok yang terletak di Graha Pejaten, Jakarta Selatan.
Modal awal Teman Ahok, kata Singgih, sebesar Rp 500 juta. Uang itu berasal dari Hasan Nasbi, CEO Cyrus Network, dan sudah dikembalikan secara bertahap. "Bang Hasan juga dapatnya itu dari saweran beberapa orang. Tapi ini kan sumbangan perorangan, bukan lembaga," katanya.
Teman Ahok bersedia agar laporan keuangan mereka diaudit. Laporan keuangan juga bisa diakses terbuka untuk umum di website www.temanahok.com. Mereka membantah tuduhan mendapat dana kucuran dari pengembang reklamasi. (Tempo)
Berikut pembiayaan Teman Ahok:
Total pendapatan saat ini:
Rp 3.177.871.500
Total pengeluaran:
Rp 2.984.487.838
Balance:
Rp. 193.383.662
Yang dijual:
Kaus (harga Rp 100-150 ribu)
Gelang (harga Rp 12 ribu)
Sarung ponsel (Rp 130-200 ribu)
